atk7
Design by Teamweb purasatyaloka.org - Aug 2007
Info Umat
Artikel, Tantra dan Wacana
Space Barner Media Promo
Hari Raya Galungan jatuh pada Budha Keliwon Dungulan. Berdasarkan pustaka 'Panji Alamat Rasmi' di Jawa Timur pada jaman Jenggala (abad XI), hari raya ini sudah dirayakan. Demikian juga pada 'Pararaton' akhir jaman kerajaan Majapahit pada abad XVI, hari raya ini juga telah dirayakan.
Hari Raya Galungan mempunyai arti "Pawedalan Jagat" atau "Oton Gumi". Ini bukan berarti gumi/jagat lahir pada hari Budha Keliwon wuku Dungulan. Melainkan pada hari itulah umat Hindu menghaturkan 'maha suksemaning idepnya' (rasa terima kasih) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan atas terciptanya dunia beserta segala isinya. Pada hari inilah umat Hindu 'angayubagia' (bergembira), bersyukur atas karunia-Nya. Ngaturang maha suksmaning idep, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan 'kinasihan', tahu akan hutang budi.
Hubungan Mayadanawa dengan Hari Raya Galungan
Dikisahkan di Desa Blingkang (kira-kira sebelah utara Danau Batur), bertahta seorang raja yang sangat sakti yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa merupakan raja keturunan Daitya, anak dari Dewi Danu. Karena kesaktiannya ia dapat merubah wujudnya menjadi bermacam-macam rupa dan bentuk.
Raja ini dikatakan menguasai Makasar, Sumbawa, Bugis, Lombok, dan Blambangan. Karena sakti dan berkuasanya, Mayadanawa menjadi sombong dan timbul sifat angkara murkanya. Pada jaman ini juga hidup seorang Mpu yang juga sakti yaitu Mpu Kulputih. Oleh Mayadanawa rakyat Bali tidak diperkenankan menyembah Tuhan, dilarang sembahyang, dan kahyangan-kahyangan/pura dirusaknya.
Karena tindakan ini rakyat Bali menjadi sengsara, tanam-tanaman menjadi rusak, orang-orang terserang penyakit. Rakyat tidak berani melawan atau membantah kehendak Mayadanawa karena sakti dan berkuasanya.
Melihat keadaan ini, Mpu Kulputih merasa prihatin. Ia kemudian melakukan yoga semadi di Pura Besakih untuk memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa untuk dapat mengatasi kekacauan masyarakat Bali yang ditimbulkan oleh tindakan rajanya. Beliau lalu mendapat wahyu dari Bhatara Mahadewa agar meminta pertolongan ke Jambu Dwipa (India).
Tidak jelas siapa akhirnya yang berangkat ke India, dan bagaimana sampai ada dikisahkan datang pasukan dari 'Sorga' untuk menyerang Mayadanawa. Hanya dikisahkah bahwa pasukan dari Sorga dipimpin oleh Bhatara Indra dengan disertai pasukan yang kuat dan persenjataan lengkap menuju Bali. Dalam penyerangan itu, sayap kanan pasukannya dipimpin oleh Citrasena dan Citrangada.
Pasukan sayap kiri dipimpin oleh Sang Jayantaka, sedangkan induk pasukan cadangan dipimpin Gandarwa. Untuk menyelidiki keadaan keraton Mayadanawa dikirim Bhagawan Narada. Dipihak lain Mayadanawa telah pula mengetahui rencana serangan pasukan Bhatara Indra ini, karena ia banyak mempunyai mata-mata.
Oleh karena itu ia menyiapkan pasukannya untuk menghadapi serangan pasukan dari Sorga itu. Peperanganpun tidak dapat dihindari, terjadilah pertempuran yang sangat hebat dan menelan banyak korban dari kedua belah pihak.
Namun karena pasukan Bhatara Indra lebih tangguh, akhirnya pasukan Mayadanawa kocar-kacir dan akhirnya melarikan diri meninggalkan raja dan patihnya yang bernama Si Kala Wong. Nasib Mayadanawa dan patihnya ternyata lagi baik, karena sebelum sempat dibunuh peperangan harus dihentikan dulu, karena hari sudah gelap.
Malam harinya saat pasukan dari Sorga sedang tertidur pulas, datanglah Mayadanawa dan menciptakan 'air cetik' (air beracun) di dekat tempat tidur pasukan dari Sorga. Kemudian Mayadanawa meninggalkan tempat itu, dan untuk menghilangkan jejak, ia kemudian berjalan dengan memiringkan telapak kakinya.
Tempat itu selanjutnya kita kenal dengan Tampak Siring. Keesokan harinya pasukan dari Sorga bangun dari tidurnya dan minum air yang diciptakan Mayadanawa. Anggota pasukan itu akhirnya menjadi sakit semua.
Mitologi Hari Raya Galungan dan Kuningan
COUNTDOWN
NGENTEG LINGGIH
SARASAWATI
01 AGUSTUS 2009